Memimpin sebuah bangsa yang rakyatnya bodoh memang susah-susah gampang. Susah jika rakyat lebih percaya kepada oposisi dan menyerang kelompok yang berkuasa, gampang jika bias mencari celah memanipulasi opini masyarakat kearah yang diinginkan.
Indonesia adalah bangsa yang bodoh, memiliki kekayaan alam yang melimpah, tapi hidup selalu dibawah penjajahan, sehingga kemiskinanlah yang merajalela. Sementara bangsa lain sudah berfikir penjelajahan ruang angkasa, mengerahkan robot untuk menggantikan peran pekerja, sampai membuat “cyborg” untuk membantu orang cacat beraktifitas seperti orang normal, bangsa Indonesia selalu berkutat pada pembahasan seputar alat kelamin.
Tak heran perhelatan politik yang dahulu tabu pada masa orde baru, kini menjadi hal yang tidak berarti. Semakin tabu sebuah hal dibahas, semakin menarik orang untuk mengintip. Dulu di jaman keditatoran Soeharto, seorang yang sedikit melenceng dari wacana perpolitikan saja bias menjadi pahlawan. Korban pembunuhan/penculikan bias menjadi pahlawan. Di era reformasi, saat pembunuhan dan penculikan sudah menjadi bahasan sehari-hari, orang sudah tidak kaget lagi mendengan balita diperkosa, orang dipotong-potong dan dimasukan tas plastik.
Untuk menutup berita heboh agar menjadi biasa, dibutuhkan berita yang lebih tabu untuk di ekspos. Tak kurang dari berita-berita politik, korupsi, pembubaran lembaga korupsi, di tutup dengan berita yang masih cukup tabu. Persiapan penutupan KPK ditutup dengan berita seputar persenggamaan Ariel-Luna Maya. Sejak saat itu berita PK Bibit-Candra sudah tidak diperhatikan masyarakat. Berita pencucian kasus Century hanya menjadi angin lalu. Entah plot dari media mem-”blow-up” video persenggamaan Luna-Ariel begitu gempita. Bahkan 2 telivisi yang selama ini intens menjadi telivisi berita-pun tak kalah norak dibandingkan dengan infotaintmen. Adakah intelijen Negara terlibat dalam hal ini. Banyak orang penasaran ingin melihat video mesum yang hangat menjadi pembicaraan, kolektor video mesum sudah jelas barisan pertama yang bias mengunduh 2 file berdurasi 2 menitan dan 6 menitan itu, istri para kolektor yang selama ini enggan menonton pun jadi merengek meminta dikopikan. Para kolega, perempuan berjilbab yang selama ini anggun, anak SD, tak satupun ketinggalan menonton video mesum yang menghebohkan itu. Mengapa film mesum yang sudah biasa di dunia maya itu bias menjadi begitu heboh? Bukankah sudah berkali-kali video mesum pejabat dengan artis, pejabat dengan bocah abg, bocah-bocah sekolah kenduri abg, tatapi mengapa video itu bias begitu booming disaat yang tepat.
Media, seakan-akan berlomba lomba menjaring sebanyak mungkin anak bangsa untuk menikmati pergumulan 2 sejoli yang gambarnya sebenarnya tidak jelas tersebut. Pihak yang berwenang seperti koor menyemangati rasa penasaran seluruh bangsa untuk segera menonton, sebelum terjerat hukum, atau setidaknya jangan sampai dianggap kampungan karena ketinggalan menonton. Istilah download, twitter, bokep menjadi bahasa standar, saat ibu-ibu mengumpul bahkan saat sedang pengajian. Anak-anak pun menjadi tahu cara berhubungan intim karena file itu bias didapat dengan mudah. Harapan terakhirnya bias jadi tidak seperti yang diduga. Bias jadi ini sebenarnya hanya kerja intelijen untuk mengalihkan kasus pembubaran KPK dan kriminalisasi Bibit-Candra. Tetapi jika sekarang semua anak bangsa jadi faham apa itu bokep, bagaimana cara downloadnya, siapa yang tahu, yang di mereka tahu anak bangsa ini haus hiburan porno. Didalam Negara dengan model demokrasi semu seperti Indonesia, asal ada uang, apapun yang diinginkan bisa terjadi. Jika efeknya diluar dugaan? Meneketehe.. mikiro dewek
Jumat, 11 Juni 2010
Kamis, 18 Maret 2010
Bom Waktu Kerusuhan
Kerusuhan tinggal menunggu waktu tepat pemicunya. Kerusuhan di tingkat elit sudah semakin semrawut, semenjak SBY menjabat untuk kedua kalinya. Perseteruan antar lembaga sudah menunjukkan bahwa undang-undang sudah bukan barang penting lagi, kecuali itu diterapkan kepada rakyat kecil. Rakyat kecil sudah sangat tidak tahan dengan tekanan-tekanan oleh pemerintah. Rakyat juga semakin muak dengan polah tingkah artis-artis politik yang hanya duduk-duduk sambil berteriak-teriak tidak tentu arah mengikuti selera humor mereka sendiri. Tak ada lagi bekerja untuk kepentingan rakyat kebanyakan. Pemerintah hanya bekerja untuk kepentingan orang-orang berduit sehingga terasa menjengkelkan bagi rakyat kebanyakan.
mengapa pemerintah hanya memikirkan kepentingan ekonomi tingkat tinggi, ekonomi makro? karena ekonomi makro berkait dengan para kapitalis. Masih ingat laporan kekayaan para pejabat? ada pejabat yang tidak memiliki kekayaan dalam bentuk dolar?
Kalau ekonomi mikro menguat siapa yang dirugikan? mereka yang memiliki kekayaan dalam bentuk dolar akan berteriak keras-keras. Salah satunya pasti SBY yang memiliki 44.887 dolar AS. Itulah alasan pemerintahan SBY lebih mengutamakan menaikkan harga-harga ketimbang berperang melawan kapitalisme. SBY juga mainan surat berharga, yang merupakan salah satu komponen ekonomi makro alias kapitalisme.
Kedepan seharusnya rakyat Indonesia bersatu untuk menuntut siapapun yang menjabat sebagai pajabat publik di negeri ini agar segera melapas dolarnya dan ditukar ke nilai rupiah yang berlaku. sehingga kedepan para pejabat akan berusaha menguatkan ekonomi mikro sejalan dengan kekuatan kapitalisme. Negara agama terbesar di dunia ini seharusnya berkaca kepada komunis, karena para komunis bekerja lebih baik ketimbang ajaran-ajaran agama kita. Cina berani memecat 3.000 perwira polisi, karena pimpinannya terindikasi suap, dan dipenjara seumur hidup tanpa syarat. Sementara, karena tingginya strata agama kita, perdebatan tentang asap rokok saja tidak pernah selesai, menuruti bayaran yang diberikan.
mengapa pemerintah hanya memikirkan kepentingan ekonomi tingkat tinggi, ekonomi makro? karena ekonomi makro berkait dengan para kapitalis. Masih ingat laporan kekayaan para pejabat? ada pejabat yang tidak memiliki kekayaan dalam bentuk dolar?
Kalau ekonomi mikro menguat siapa yang dirugikan? mereka yang memiliki kekayaan dalam bentuk dolar akan berteriak keras-keras. Salah satunya pasti SBY yang memiliki 44.887 dolar AS. Itulah alasan pemerintahan SBY lebih mengutamakan menaikkan harga-harga ketimbang berperang melawan kapitalisme. SBY juga mainan surat berharga, yang merupakan salah satu komponen ekonomi makro alias kapitalisme.
Kedepan seharusnya rakyat Indonesia bersatu untuk menuntut siapapun yang menjabat sebagai pajabat publik di negeri ini agar segera melapas dolarnya dan ditukar ke nilai rupiah yang berlaku. sehingga kedepan para pejabat akan berusaha menguatkan ekonomi mikro sejalan dengan kekuatan kapitalisme. Negara agama terbesar di dunia ini seharusnya berkaca kepada komunis, karena para komunis bekerja lebih baik ketimbang ajaran-ajaran agama kita. Cina berani memecat 3.000 perwira polisi, karena pimpinannya terindikasi suap, dan dipenjara seumur hidup tanpa syarat. Sementara, karena tingginya strata agama kita, perdebatan tentang asap rokok saja tidak pernah selesai, menuruti bayaran yang diberikan.
Suara Merdu Jenderal Susno
Akhirnya suara merdu Komjen Pol Susno Duadji mengalun merdu menghiasi berbagai media terkemuka di negeri ini. Sudah lama orang menunggu kapan jenderal tanpa pekerjaan di institusi tertinggi kepolisian itu menanyi. Sejak dipanggil oleh komisi III bersama kapolri, orang sudah berharap suatu saat sang jenderal menjadi seorang aktor politik negeri ini, sejajar dengan si Poltak. Entah apa tendesinya, mungkin sakit hati, mungkin cuci tangan, mungkin mencari simpati atau bahkan mengejar jabatan ketua KPK yang mulai ditinggalkan Tumpak, karena tekanan publik atas kompetensinya. Tak penting!!! Yang paling penting adalah orang sudah menunggu suara merdu bak menunggu Mike Mohede di panggung berlampu ribuan watt. Atau bahkan sekaliber para slanker menunggu idole mereka bertelanjang dada di tengah guyuran hujan lebat di stadion terbuka.
Apapun alasan dan tujuan sang jenderal, jelas mencelikkan mata masyarakat akan bobroknya institusi hukum itu sejak lepas dari keluarga militer. Polisi seakan memiliki kekuasaan tak terbatas di bidang hukum. dapat dengan mudah memperjualbelikan perkara, membuat orang menjadi berpekara. Untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sebagai intitusi yang mandiri polisi harus kaya. Untuk itu diberlakukanlah sistem setoran. Jika pagi hari komandan masuk ruangan, dan dilacinya hanya sedikit tumpukan amplop, seluruh anggota bisa seharian berpanas berhujan menyetop kendaraan dari ujung area kekuasaan yang satu ke ujung yang lain sebagai hukuman.
Tak pelak, rakyat yang harus menanggung beban, karena para pelaku ekonomi yang sering kena palak dijalanan lalu meningkatkan harga jual barangnya jauh melampaui ongkos produksi. Bayangkan, hanya untuk perjalanan dari ujung jawa timur ke Jakarta, biaya mel dijalanan yang harus dibayarkan ke polisi (beberapa ke DLLAJR) bisa mencapai 15 juta rupiah.
Tak hanya polisi jalanan saja yang kurang ajar, reskrim pun tak kalah cerdas dalam mengejar setoran. Setiap malam keliling ke tempat-tempat hiburan memalak orang mabuk. Membiarkan orang melakukan kejahatan agar bisa digembalakan sebagai sapi perahan.
Lebih parahnya lagi, bagian administrasipun berbau busuk menusuk. mencari surat keterangan berkelakuan baikpun sudah bertarif. Mencari surat ijin mengemudi, tidak bakal lulus jika memakai jalur resmi, sedangkan jika mampu mengeluarkan uang lebih, peduli orang buta huruf, buta warna pun bisa mendapatkannya. Jadi kecelakaan lalulintas sekarang ini memang dibuat oleh polisi, juga untuk penghasilan sampingan dari fee jasa raharja, maupun dari mempermainkan korban dan pelaku kecelakaan.
Apakah orang sekaliber Jenderal tidak tahu masalah seperti ini? kalau jawabannya tidak, bagaimana ia bisa menjadi seorang jenderal? apakah lulus akademi terus sekolah dibelakang meja, lalu setiap lulus naik pangkatnya sampai menjadi jenderal? apakah spanjang kariernya tidak pernah bekerja dilapangan? pantas saja kalau jenderal semacam ini sangat mudah dikadalin oleh para buaya darat peliharaannya sendiri.
Apapun alasan dan tujuan sang jenderal, jelas mencelikkan mata masyarakat akan bobroknya institusi hukum itu sejak lepas dari keluarga militer. Polisi seakan memiliki kekuasaan tak terbatas di bidang hukum. dapat dengan mudah memperjualbelikan perkara, membuat orang menjadi berpekara. Untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sebagai intitusi yang mandiri polisi harus kaya. Untuk itu diberlakukanlah sistem setoran. Jika pagi hari komandan masuk ruangan, dan dilacinya hanya sedikit tumpukan amplop, seluruh anggota bisa seharian berpanas berhujan menyetop kendaraan dari ujung area kekuasaan yang satu ke ujung yang lain sebagai hukuman.
Tak pelak, rakyat yang harus menanggung beban, karena para pelaku ekonomi yang sering kena palak dijalanan lalu meningkatkan harga jual barangnya jauh melampaui ongkos produksi. Bayangkan, hanya untuk perjalanan dari ujung jawa timur ke Jakarta, biaya mel dijalanan yang harus dibayarkan ke polisi (beberapa ke DLLAJR) bisa mencapai 15 juta rupiah.
Tak hanya polisi jalanan saja yang kurang ajar, reskrim pun tak kalah cerdas dalam mengejar setoran. Setiap malam keliling ke tempat-tempat hiburan memalak orang mabuk. Membiarkan orang melakukan kejahatan agar bisa digembalakan sebagai sapi perahan.
Lebih parahnya lagi, bagian administrasipun berbau busuk menusuk. mencari surat keterangan berkelakuan baikpun sudah bertarif. Mencari surat ijin mengemudi, tidak bakal lulus jika memakai jalur resmi, sedangkan jika mampu mengeluarkan uang lebih, peduli orang buta huruf, buta warna pun bisa mendapatkannya. Jadi kecelakaan lalulintas sekarang ini memang dibuat oleh polisi, juga untuk penghasilan sampingan dari fee jasa raharja, maupun dari mempermainkan korban dan pelaku kecelakaan.
Apakah orang sekaliber Jenderal tidak tahu masalah seperti ini? kalau jawabannya tidak, bagaimana ia bisa menjadi seorang jenderal? apakah lulus akademi terus sekolah dibelakang meja, lalu setiap lulus naik pangkatnya sampai menjadi jenderal? apakah spanjang kariernya tidak pernah bekerja dilapangan? pantas saja kalau jenderal semacam ini sangat mudah dikadalin oleh para buaya darat peliharaannya sendiri.
Minggu, 14 Maret 2010
SBY emang sakti
Bukan bergugu kepada dukun atau kyai, bukan lelaku seperti saat disantet dan dilempar jin menjelang pemilu, kali ini kesaktian SBY muncul karena para penasehat kepresidenan yang dibalik layar ada Malarangeng bersaudara dengan Fox Indonesianya. Bukan menolak Santet, bbukan pula pamer kekebalan melawan peluru teroris yang menjadikan fotonya menjadi sasaran latihan tembak, tetapi pertunjukan elektabilitas, bahkan dimata Barack Obama menjelang kedatangannya ke Indonesia. Sedang kesaktiannya bertanding dengan lawan politiknya, setelah tak mempan menghiba, tak manjur merayu, tak geming menggertak, sampai sakit ibundanya pun jadi ekspose berita, akhirnya SBY mengeluarkan jurus mautnya, menembak mati gembong teroris. Tak pelak kasus Century yang mengganggu elektabilitasnya segera terpendam di lorong sempit ingatan bangsa Indonesia. Prestasinya pun segera disanjung-sanjung bukan saja oleh Australia yang selalu saja rindu berita sensasional terorisme.
Mungkin tak banyak orang yang memperhatikan, betapa setiap diserang oleh lawan politiknya SBY selalu berhasil membungkam teroris. Bahkan konon teroris yang berlatih di Aceh ini telah diidentifikasi setahun sebelumnya, tetapi untuk tindakannya menunggu "saat yang tepat". Pada dasarnya teroris yang selama ini beroperasi di Indonesia adalah singa-singa kecil yang mengaum di poso maupun maluku pada jaman awal reformasi. Mungkin SBY bahkan sebenarnya sudah cukup dekat dengan teroris-teroris ini sejak masih menjabat sebagai menko polkam, siapa yang tahu. Tapi yang menggelitik selalu adalah, apakah sedemikian rumitnya jaringan terorisme di Indonesia sehingga hanya bisa dilumpuhkan saat pemerintah kehilangan legitimasi dari rakyatnya.
Mungkin tak banyak orang yang memperhatikan, betapa setiap diserang oleh lawan politiknya SBY selalu berhasil membungkam teroris. Bahkan konon teroris yang berlatih di Aceh ini telah diidentifikasi setahun sebelumnya, tetapi untuk tindakannya menunggu "saat yang tepat". Pada dasarnya teroris yang selama ini beroperasi di Indonesia adalah singa-singa kecil yang mengaum di poso maupun maluku pada jaman awal reformasi. Mungkin SBY bahkan sebenarnya sudah cukup dekat dengan teroris-teroris ini sejak masih menjabat sebagai menko polkam, siapa yang tahu. Tapi yang menggelitik selalu adalah, apakah sedemikian rumitnya jaringan terorisme di Indonesia sehingga hanya bisa dilumpuhkan saat pemerintah kehilangan legitimasi dari rakyatnya.
Rabu, 03 Maret 2010
DPR tidak jelas
Wakil rakyat yang terhormat, konon dipilih oleh ribuan pemilih entah dengan referensi apa, semakin tidak jelas saja tujuan kerjanya. Kerja molor tanpa arah, seakan-akan hanya ingin menunjukkan bahwa mereka juga sibuk. Melihat rapat paripurna di gedung terhormat 2-3 Maret 2010, sungguh kegiatn yang sangat membuang energi. Hal yang sudah sangat jelas duduk persoalannya dibawa berputar-putar. Bagi orang-orang miskin jelas sekali salah satu tujuan rapat paripurna kemarin adalah kejar setoran. Bayangkan jika hanya dengan duduk termenung saja jutaan rupiah mengalir ke kantung setiap hari, betapa gembung pundi-pundi harta jika paripurna bisa diulur-ulru selama mungkin, belum lagi keuntungan beras dirumah tidak perlu berkurang karena selama itu makan nikmat ditanggung oleh rakyat.
Bahkan ketika tinggal mengambil kesimpulan dari opsi yang sangat jelaspun, banyak anggota DPR berusaha membuat menjadi tidak jelas kembali, dengan harapan bisa molor lagi. sangat menjijikkan, karena sebagian besar rakyat Indonesia memutuskan untuk ikut pemilu 2009 agar demokrasi bisa lebih memiliki tempat di negeri terbelakang ini. Tetapi sangat disayangkan sebagian besar dari mereka hanya memilih bangkai dalam bungkus koran, sehingga alih-alih pekerjaan produktif yang dihasilkan, malah uang rakyat yang tersedot. Akibat dari kebobrokan tingkat kesadaran mengabdi kepada negara, yang dipikirkan oleh para wakil rakyat hanya fulus yang mengalir ke kantung pribadi. Peduli rapat menghasilkan sesuatu yang produktif, atau sekedar ber haa...huuu... seperti yang dilakukan ningrat jogja, atau sekedar mengenang akting kacangan dari sinetron murahan, sambil bersumpah-serapah meskipun dalam agamanya melarang sumpah sembarangan. Bahkan setelah rakyat semakin frustasi, justru canda tawa yang mereka tunjukkan.
Akibatnya adalah, tak ada kepentingan rakyat yang terakomodasi. Yang ada adalah pelebaran penerimaan pajak dari sektor yang tidak produktif, seperti pekerja rendahan dan buruh. Bahkan toko-toko kelontong dengan pendapatan pas-pasan pun sekarang ini dikejar berbagai-bagai pajak, dari karcis pasar, karcis dispenda, sampai spanduk yang dipasang di depan rumah sendiripun terpaksa dicopot, ketimbang diminta duit oleh departemen pajak. Melihat ulah para legislator, departemen pajakpun tak kalah seru berulah, dari melebarkan pajak dengan semakin ngawur karena dikejar setoran, sampai ogah bekerja dan berharap rejeki datang sendiri kekantornya. Undang-undang yang mengancam yang dibuat oleh para legislator bersama pemerintah, telah memberi ruang bagi tangan-tangan pemerintah untuk menekan rakyat tanpa memberi kontribusi balik apapun. KUR, BOS, JAMKESOS, atau apapun yang digembar-gemborkan para penjilat, hampir menjadi isapan kosong, karena berbagai manipulasi tidak bisa diurus. Puskesmas murah sudah ada sejak jaman order baru. BOS hanya bisa dinikmati mereka yang sekolah di negeri yang gurunya tidak mampu mengajar dengan baik, jamkesos hanya dibatasi sejumlah dipan keras di rumah sakit-rumah sakit kumuh. Kalaupun ada rumah sakit yang baik, itu bukan karena pemerintah pusat, tetapi karena kebetulan putra daerah yang memimpin adalah orang yang peduli.
Sungguh melelahkan menanti orang-orang yang kita pilih, menjadi pribadi yang wajar, bahwa mereka sudah kita bayar mahal, dan belum menghasilkan hal-hal yang cukup berarti bagi rakyat. Kalau mereka berdalih dulu mengeluarkan uang banyak sebelum jadi wakil rakyat, maka semakin meyakinkan kita bahwa mereka hanya dipilih oleh orang-orang bodoh kelas kolong jembatan yang cukup hidup dengan gopekan.
Bahkan ketika tinggal mengambil kesimpulan dari opsi yang sangat jelaspun, banyak anggota DPR berusaha membuat menjadi tidak jelas kembali, dengan harapan bisa molor lagi. sangat menjijikkan, karena sebagian besar rakyat Indonesia memutuskan untuk ikut pemilu 2009 agar demokrasi bisa lebih memiliki tempat di negeri terbelakang ini. Tetapi sangat disayangkan sebagian besar dari mereka hanya memilih bangkai dalam bungkus koran, sehingga alih-alih pekerjaan produktif yang dihasilkan, malah uang rakyat yang tersedot. Akibat dari kebobrokan tingkat kesadaran mengabdi kepada negara, yang dipikirkan oleh para wakil rakyat hanya fulus yang mengalir ke kantung pribadi. Peduli rapat menghasilkan sesuatu yang produktif, atau sekedar ber haa...huuu... seperti yang dilakukan ningrat jogja, atau sekedar mengenang akting kacangan dari sinetron murahan, sambil bersumpah-serapah meskipun dalam agamanya melarang sumpah sembarangan. Bahkan setelah rakyat semakin frustasi, justru canda tawa yang mereka tunjukkan.
Akibatnya adalah, tak ada kepentingan rakyat yang terakomodasi. Yang ada adalah pelebaran penerimaan pajak dari sektor yang tidak produktif, seperti pekerja rendahan dan buruh. Bahkan toko-toko kelontong dengan pendapatan pas-pasan pun sekarang ini dikejar berbagai-bagai pajak, dari karcis pasar, karcis dispenda, sampai spanduk yang dipasang di depan rumah sendiripun terpaksa dicopot, ketimbang diminta duit oleh departemen pajak. Melihat ulah para legislator, departemen pajakpun tak kalah seru berulah, dari melebarkan pajak dengan semakin ngawur karena dikejar setoran, sampai ogah bekerja dan berharap rejeki datang sendiri kekantornya. Undang-undang yang mengancam yang dibuat oleh para legislator bersama pemerintah, telah memberi ruang bagi tangan-tangan pemerintah untuk menekan rakyat tanpa memberi kontribusi balik apapun. KUR, BOS, JAMKESOS, atau apapun yang digembar-gemborkan para penjilat, hampir menjadi isapan kosong, karena berbagai manipulasi tidak bisa diurus. Puskesmas murah sudah ada sejak jaman order baru. BOS hanya bisa dinikmati mereka yang sekolah di negeri yang gurunya tidak mampu mengajar dengan baik, jamkesos hanya dibatasi sejumlah dipan keras di rumah sakit-rumah sakit kumuh. Kalaupun ada rumah sakit yang baik, itu bukan karena pemerintah pusat, tetapi karena kebetulan putra daerah yang memimpin adalah orang yang peduli.
Sungguh melelahkan menanti orang-orang yang kita pilih, menjadi pribadi yang wajar, bahwa mereka sudah kita bayar mahal, dan belum menghasilkan hal-hal yang cukup berarti bagi rakyat. Kalau mereka berdalih dulu mengeluarkan uang banyak sebelum jadi wakil rakyat, maka semakin meyakinkan kita bahwa mereka hanya dipilih oleh orang-orang bodoh kelas kolong jembatan yang cukup hidup dengan gopekan.
Selasa, 02 Maret 2010
Lega Rasanya Gerindra masih konsisten
Burung dara burung kutilang
Terbang melayang dengan suara
Janganlah kita saling menyerang
Karena kita bersaudara...
Penggalan pantun yang dibacakan Sekjen DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani, menutup kegembiraan kami pendukung Gerindra dengan Prabowo sebagai motor penggerak utamanya. Meskipun tidak menyebut nama, namun tujuan akhirnya toh membuat kami lega. Memang kami sempat kecewa kepada anggota pansus dari partai Gerindra yang tidak segagah Prabowo saat kampanye pilpres lalu, namun dalam pandangan akhir 3/2/2010 yang sempat membuat empot2an jantung orang pinggiran, pilihan Gerindra sudah sesuai dengan keinginan rakyat kebanyakan. HIDUP PRABOWO.
Hilangnya uang 6,7 triliun sungguh tidak sepadan dengan banyaknya pemutusan hubungan kerja, yang mengakibatkan orang-orang pinggiran habis-habisan bertahan hidup. Lihatlah sekeliling anda, berapa banyak tetangga anda yang sekarang berjualan siomay keliling, berjualan jus minuman kemasan dipingir-pinggir jalan? Apakah itu yang disebut keberhasilan ekonomi? Mereka terpaksa berjualan dari hasil uang PHK mereka, bersaing secara ketat dengan sesama korban PHK, dengan modal pas-pasan. Sementara anak-anak mereka dicekoki dengan pandangan hidup glamour melalui sinetron lokal. Banyak anak-anak karena orangtuanya hidup pas-pasan akhirnya menjual harga diri agar tidak dianggap udik oleh teman-temannya yang sudah lebih dahulu menggadaikan kehidupan mereka.
Membela Bailout tak ada bedanya dengan mendorong pelacuran, seperti seorang taat melihat kemolekan seorang pelacur lalu memutuskan untuk mengawini pelacur itu. Bedanya orang taat ini segera menyesali kesalahaannya mengigat si lacur tetap saja melacur. Berbeda dengan para pengambil kebijakan Bailout yang bahkan merasa bangga bahwa uang yang mereka buang ke kantung-kantung orang kaya itu merupakan kebijakan yang paling baik. Ilah-ilah meminta maaf dan mengucapkan penyesalan, seakan2 mereka seperti orang taat ini yang mengkomersialkan pelacurnya atau bahkan ikut menjalani kehidupan sebagai pelacur untuk keuntungan sendiri. Bagaimana keputusan mengawini pelacur yang salah bukan muncul dari orang yang salah, dan tidak bisa dipidanakan jika melanggar aturan. Kelak kita boleh menembak seseorang lalu membayar aparat dan orang yang berwenang untuk mengatakan bahwa yang salah adalah pistol dan arah pelurunya, kita hanya menekan pelatuk dan menunjukkan moncong pistol itu ke jidat seseorang, jadi biarkan pistol, peluru, dan pembuatnya yang dipindakan. Atau kita rampok seseorang lalu katakan yang salah adalah orang yang lewat didepak kita mengapa memakai perhiasan dan memiliki banyak harta kekayaan. Jadi ke depan hukum dibuatlah untuk melindungi jika kita sudah siap melakukan kejahatan.
Terbang melayang dengan suara
Janganlah kita saling menyerang
Karena kita bersaudara...
Penggalan pantun yang dibacakan Sekjen DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani, menutup kegembiraan kami pendukung Gerindra dengan Prabowo sebagai motor penggerak utamanya. Meskipun tidak menyebut nama, namun tujuan akhirnya toh membuat kami lega. Memang kami sempat kecewa kepada anggota pansus dari partai Gerindra yang tidak segagah Prabowo saat kampanye pilpres lalu, namun dalam pandangan akhir 3/2/2010 yang sempat membuat empot2an jantung orang pinggiran, pilihan Gerindra sudah sesuai dengan keinginan rakyat kebanyakan. HIDUP PRABOWO.
Hilangnya uang 6,7 triliun sungguh tidak sepadan dengan banyaknya pemutusan hubungan kerja, yang mengakibatkan orang-orang pinggiran habis-habisan bertahan hidup. Lihatlah sekeliling anda, berapa banyak tetangga anda yang sekarang berjualan siomay keliling, berjualan jus minuman kemasan dipingir-pinggir jalan? Apakah itu yang disebut keberhasilan ekonomi? Mereka terpaksa berjualan dari hasil uang PHK mereka, bersaing secara ketat dengan sesama korban PHK, dengan modal pas-pasan. Sementara anak-anak mereka dicekoki dengan pandangan hidup glamour melalui sinetron lokal. Banyak anak-anak karena orangtuanya hidup pas-pasan akhirnya menjual harga diri agar tidak dianggap udik oleh teman-temannya yang sudah lebih dahulu menggadaikan kehidupan mereka.
Membela Bailout tak ada bedanya dengan mendorong pelacuran, seperti seorang taat melihat kemolekan seorang pelacur lalu memutuskan untuk mengawini pelacur itu. Bedanya orang taat ini segera menyesali kesalahaannya mengigat si lacur tetap saja melacur. Berbeda dengan para pengambil kebijakan Bailout yang bahkan merasa bangga bahwa uang yang mereka buang ke kantung-kantung orang kaya itu merupakan kebijakan yang paling baik. Ilah-ilah meminta maaf dan mengucapkan penyesalan, seakan2 mereka seperti orang taat ini yang mengkomersialkan pelacurnya atau bahkan ikut menjalani kehidupan sebagai pelacur untuk keuntungan sendiri. Bagaimana keputusan mengawini pelacur yang salah bukan muncul dari orang yang salah, dan tidak bisa dipidanakan jika melanggar aturan. Kelak kita boleh menembak seseorang lalu membayar aparat dan orang yang berwenang untuk mengatakan bahwa yang salah adalah pistol dan arah pelurunya, kita hanya menekan pelatuk dan menunjukkan moncong pistol itu ke jidat seseorang, jadi biarkan pistol, peluru, dan pembuatnya yang dipindakan. Atau kita rampok seseorang lalu katakan yang salah adalah orang yang lewat didepak kita mengapa memakai perhiasan dan memiliki banyak harta kekayaan. Jadi ke depan hukum dibuatlah untuk melindungi jika kita sudah siap melakukan kejahatan.
Rabu, 24 Februari 2010
Prabowo, saya kecewa
Diam seribu bahasa, ternyata Prabowo Subiantoro memendam tujuan kotor untuk menggapai kekuasaan tanpa sudi keluar keringat. Lewat daya tawar pada fraksinya yang memiliki 1 wakil di pansus century, Prabowo sebagai pemilik Gerindra mengincar jabatan instan. Sebenarnya tanda-tanda itu sudah terlihat sejak ia alot untuk segera berkoalisi dengan PDI Perjuangan, rakyat menjadi cukup kecewa, karena ia tidak segera tahu diri kedudukannya. Dengan bermanis manis terhadap sejawatnya SBY, semakin kelihatan seperti apa sepak terjang militer dalam memperlakukan negara dan bangsa ini. Entah ada kebusukan apa sehingga orang yang punya kuasa berusaha menutup-nutupi. Namun meskipun yakin ada kebusukan, tetap saja ada orang tanpa rasa malu menumpang mengendus-endus kebusukan itu, bukan untuk ikut membongkar, tetapi untuk menumpang kenikmatan. Sebagai orang yang ikut berteriak-teriak menonjolkan Gerindra saat pemilu lalu, saya sungguh menjadi sangat malu. Ternyata Gerindra hanya segerombolan orang-orang haus kekuasaan yang tidak mampu menonjol di Golkar. Mengapa saya katakan begitu? Ibarat Bank Century itu tempayan, para pemegang kebijakan sengaja membuat tempayan bocor dari serpihan-serpihan tempayan pecah. Tentu saja harapannya adalah jika diisi anggur yang nikmat, anggur itu bisa bocor tanpa bisa mempersalahkan yang mengisi. Jelas yang membuat tempayan dan pengisi tempayan adalah orang yang sama. Hanya saja anggur yang diisikan adalah milik rakyat, agar bisa dimanfaatkan sendiri oleh orang yang telah dengan rapi merancang strategi. Jadi jika sudah jelas tembayan itu bocor, bagaimana orang yang memutuskan untuk mengisi tempayan itu dengan anggur nikmat secara tergesa-gesa tanpa diuji dengan air, tidak dianggap sebagai orang yang dengan sengaja dan sadar melakukan kesalahan. Hanya orang buta dan tuli, bebal hati dan tak berperasaanlah yang berani menadahkan dada terhadap kasus ini.
Dulu saya sempat begitu kagum dengan Fadli Zon yang begitu cerdas berdebat, begitu kukuh dengan data-data, ternyata sekarang tidak lebih dari seekor anak ayam yang hidup di sebuah sarang kucing. Saya yang telah mencontreng Mega-Prabowo KECEWA berat dengan sikap kemaruk partai Gerindra, yang ternyata hanya menumpang ketenaran ekonomi kerakyatan yang menjadi platform dasar PDI Perjuangan sejak awal.
Dulu saya sempat begitu kagum dengan Fadli Zon yang begitu cerdas berdebat, begitu kukuh dengan data-data, ternyata sekarang tidak lebih dari seekor anak ayam yang hidup di sebuah sarang kucing. Saya yang telah mencontreng Mega-Prabowo KECEWA berat dengan sikap kemaruk partai Gerindra, yang ternyata hanya menumpang ketenaran ekonomi kerakyatan yang menjadi platform dasar PDI Perjuangan sejak awal.
Langganan:
Postingan (Atom)