Bukan bergugu kepada dukun atau kyai, bukan lelaku seperti saat disantet dan dilempar jin menjelang pemilu, kali ini kesaktian SBY muncul karena para penasehat kepresidenan yang dibalik layar ada Malarangeng bersaudara dengan Fox Indonesianya. Bukan menolak Santet, bbukan pula pamer kekebalan melawan peluru teroris yang menjadikan fotonya menjadi sasaran latihan tembak, tetapi pertunjukan elektabilitas, bahkan dimata Barack Obama menjelang kedatangannya ke Indonesia. Sedang kesaktiannya bertanding dengan lawan politiknya, setelah tak mempan menghiba, tak manjur merayu, tak geming menggertak, sampai sakit ibundanya pun jadi ekspose berita, akhirnya SBY mengeluarkan jurus mautnya, menembak mati gembong teroris. Tak pelak kasus Century yang mengganggu elektabilitasnya segera terpendam di lorong sempit ingatan bangsa Indonesia. Prestasinya pun segera disanjung-sanjung bukan saja oleh Australia yang selalu saja rindu berita sensasional terorisme.
Mungkin tak banyak orang yang memperhatikan, betapa setiap diserang oleh lawan politiknya SBY selalu berhasil membungkam teroris. Bahkan konon teroris yang berlatih di Aceh ini telah diidentifikasi setahun sebelumnya, tetapi untuk tindakannya menunggu "saat yang tepat". Pada dasarnya teroris yang selama ini beroperasi di Indonesia adalah singa-singa kecil yang mengaum di poso maupun maluku pada jaman awal reformasi. Mungkin SBY bahkan sebenarnya sudah cukup dekat dengan teroris-teroris ini sejak masih menjabat sebagai menko polkam, siapa yang tahu. Tapi yang menggelitik selalu adalah, apakah sedemikian rumitnya jaringan terorisme di Indonesia sehingga hanya bisa dilumpuhkan saat pemerintah kehilangan legitimasi dari rakyatnya.
Minggu, 14 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar