Selasa, 02 Maret 2010

Lega Rasanya Gerindra masih konsisten

Burung dara burung kutilang
Terbang melayang dengan suara
Janganlah kita saling menyerang
Karena kita bersaudara...

Penggalan pantun yang dibacakan Sekjen DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani, menutup kegembiraan kami pendukung Gerindra dengan Prabowo sebagai motor penggerak utamanya. Meskipun tidak menyebut nama, namun tujuan akhirnya toh membuat kami lega. Memang kami sempat kecewa kepada anggota pansus dari partai Gerindra yang tidak segagah Prabowo saat kampanye pilpres lalu, namun dalam pandangan akhir 3/2/2010 yang sempat membuat empot2an jantung orang pinggiran, pilihan Gerindra sudah sesuai dengan keinginan rakyat kebanyakan. HIDUP PRABOWO.
Hilangnya uang 6,7 triliun sungguh tidak sepadan dengan banyaknya pemutusan hubungan kerja, yang mengakibatkan orang-orang pinggiran habis-habisan bertahan hidup. Lihatlah sekeliling anda, berapa banyak tetangga anda yang sekarang berjualan siomay keliling, berjualan jus minuman kemasan dipingir-pinggir jalan? Apakah itu yang disebut keberhasilan ekonomi? Mereka terpaksa berjualan dari hasil uang PHK mereka, bersaing secara ketat dengan sesama korban PHK, dengan modal pas-pasan. Sementara anak-anak mereka dicekoki dengan pandangan hidup glamour melalui sinetron lokal. Banyak anak-anak karena orangtuanya hidup pas-pasan akhirnya menjual harga diri agar tidak dianggap udik oleh teman-temannya yang sudah lebih dahulu menggadaikan kehidupan mereka.
Membela Bailout tak ada bedanya dengan mendorong pelacuran, seperti seorang taat melihat kemolekan seorang pelacur lalu memutuskan untuk mengawini pelacur itu. Bedanya orang taat ini segera menyesali kesalahaannya mengigat si lacur tetap saja melacur. Berbeda dengan para pengambil kebijakan Bailout yang bahkan merasa bangga bahwa uang yang mereka buang ke kantung-kantung orang kaya itu merupakan kebijakan yang paling baik. Ilah-ilah meminta maaf dan mengucapkan penyesalan, seakan2 mereka seperti orang taat ini yang mengkomersialkan pelacurnya atau bahkan ikut menjalani kehidupan sebagai pelacur untuk keuntungan sendiri. Bagaimana keputusan mengawini pelacur yang salah bukan muncul dari orang yang salah, dan tidak bisa dipidanakan jika melanggar aturan. Kelak kita boleh menembak seseorang lalu membayar aparat dan orang yang berwenang untuk mengatakan bahwa yang salah adalah pistol dan arah pelurunya, kita hanya menekan pelatuk dan menunjukkan moncong pistol itu ke jidat seseorang, jadi biarkan pistol, peluru, dan pembuatnya yang dipindakan. Atau kita rampok seseorang lalu katakan yang salah adalah orang yang lewat didepak kita mengapa memakai perhiasan dan memiliki banyak harta kekayaan. Jadi ke depan hukum dibuatlah untuk melindungi jika kita sudah siap melakukan kejahatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar