Diam seribu bahasa, ternyata Prabowo Subiantoro memendam tujuan kotor untuk menggapai kekuasaan tanpa sudi keluar keringat. Lewat daya tawar pada fraksinya yang memiliki 1 wakil di pansus century, Prabowo sebagai pemilik Gerindra mengincar jabatan instan. Sebenarnya tanda-tanda itu sudah terlihat sejak ia alot untuk segera berkoalisi dengan PDI Perjuangan, rakyat menjadi cukup kecewa, karena ia tidak segera tahu diri kedudukannya. Dengan bermanis manis terhadap sejawatnya SBY, semakin kelihatan seperti apa sepak terjang militer dalam memperlakukan negara dan bangsa ini. Entah ada kebusukan apa sehingga orang yang punya kuasa berusaha menutup-nutupi. Namun meskipun yakin ada kebusukan, tetap saja ada orang tanpa rasa malu menumpang mengendus-endus kebusukan itu, bukan untuk ikut membongkar, tetapi untuk menumpang kenikmatan. Sebagai orang yang ikut berteriak-teriak menonjolkan Gerindra saat pemilu lalu, saya sungguh menjadi sangat malu. Ternyata Gerindra hanya segerombolan orang-orang haus kekuasaan yang tidak mampu menonjol di Golkar. Mengapa saya katakan begitu? Ibarat Bank Century itu tempayan, para pemegang kebijakan sengaja membuat tempayan bocor dari serpihan-serpihan tempayan pecah. Tentu saja harapannya adalah jika diisi anggur yang nikmat, anggur itu bisa bocor tanpa bisa mempersalahkan yang mengisi. Jelas yang membuat tempayan dan pengisi tempayan adalah orang yang sama. Hanya saja anggur yang diisikan adalah milik rakyat, agar bisa dimanfaatkan sendiri oleh orang yang telah dengan rapi merancang strategi. Jadi jika sudah jelas tembayan itu bocor, bagaimana orang yang memutuskan untuk mengisi tempayan itu dengan anggur nikmat secara tergesa-gesa tanpa diuji dengan air, tidak dianggap sebagai orang yang dengan sengaja dan sadar melakukan kesalahan. Hanya orang buta dan tuli, bebal hati dan tak berperasaanlah yang berani menadahkan dada terhadap kasus ini.
Dulu saya sempat begitu kagum dengan Fadli Zon yang begitu cerdas berdebat, begitu kukuh dengan data-data, ternyata sekarang tidak lebih dari seekor anak ayam yang hidup di sebuah sarang kucing. Saya yang telah mencontreng Mega-Prabowo KECEWA berat dengan sikap kemaruk partai Gerindra, yang ternyata hanya menumpang ketenaran ekonomi kerakyatan yang menjadi platform dasar PDI Perjuangan sejak awal.
Rabu, 24 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar