Dengan pernyataan-pernyatan partai Demokrat, dan SBY sebagai pembinanya itu jelas bahwa mereka menganggap rakyat adalah segerombolan orang-orang buta huruf yang mudah dibeli dengan Rp.20.000,-an. Mereka tidak sadar bahwa sekarang ini teknologi begitu mempengaruhi kecerdasan rakyat sampai ke wilayah paling pelosok. Mereka tidak pernah terbangun bahwa banyak rakyat miskin rela menjual harga dirinya demi sebuah telepon seluler yang bisa digunakan untuk narsis di dunia maya. Padahal Demokrat dan SBY menang karena FOX menangani media dengan baik, sesuai dengan bayaran yang diberikan kepadanya.
Entah karena terlalu bodoh, atau sudah semakin kebingungan karena takut kasusnya terbongkar, fraksi Demokrat di pansus Century dan SBY di kursi kepresidenan semakin gelap mata. Dari melarang demonstrasi ala demokrasi, membuat ancaman-ancaman ke lawan politik yang justru semakin membuka boroknya sendiri, ataupun melakukan politik dagang bebek seperti yang dilakukannya terhadap rakyat saat kampanye lalu. Tekanan yang dilakukan terhadap Bakrie, misalnya, adalah merupakan dagelan yang benar-benar tidak lucu. Mestinya SBY telah memenjarakan Bakrie sekeluarga kurang lebih 2-3 tahun yang lalu. Kasus lapindo jelas-jelas merupakan kriminal industri, karena ketidakmampuan industri pertambangan milik Bakrie dalam menguasai teknologi pertambangan, tatapi tetap mendapatkan ijin. Bahkan kasus pengemplangan pajakpun sebenarnya telah mencuat sejak Bakrie masih duduk sebagai menteri.
Kembali ke pernyataan fraksi Demokrat yang menyatakan proses merger dan aliran dananya bermasalah, partai penguasa ini benar-benar kumpulan pemain sinetron kejar tayang, mungkin karena pengaruh bang poltak si bodoh yang beruntung karena dekat dengan mentari. Mari kita lihat gambaran berikut.

Fraksi Demokrat dan partai demokrat menyatakan bahwa merger dan aliran dana bank Century bermasalah, tetapi kebijakan baiout maupun pemberian pinjaman jangka pendek adalah langkah yang tepat untuk menyelamatkan perekonomian. Yakinlah bahwa SBY yang pernah belajar kemiliteran pun tidak menyadari kesalahannya. Mungkin SBY menganggap BI, KSSK, dan LPS adalah pasukan artileri medan yang gagah berani. Pada sebuah sisi jembatan, sudah jelas dinyatakan bahwa jembatan bambu (merger CIC) yang ada tidak bakal kuat dilewati tank, karena jelas secara kasat mata bahw jembatan itu selain dibangun secara serampangan dengan bahan yang rapuh, juga telah digerogoti usia. Namun Armed (BI, KSSK, LPS) siap merentangkan besi membujur menuju daratan seberang, hanya saja besi-besi yang mereka bawa berukuran pendek-pendek(FPJP). Tak kurang akal merekapun menyambung besi-besi pendek itu dengan tali-tali yang tersedia, karena kalau harus dengan mengelas dan membaut, pasti keributannya akan terdengar musuh(Bailout), sayang kecerdasan mereka yang tanpa perhitungan ternyata tidak mampu mengakali alam, karena saat pasukan melewati jembatan, seluruh pasukan lenyap ditelan arus. Keributannya membangunkan musuh-musuh mereka, yang akhirnya masih bisa menemukan sisa-sisa bangkai pasukan, tetapi semua sudah dalam kondisi mengenaskan sulit untuk dikenali. Jadi musuhpun tidak dapat membuktikan itu bangkai pasukan siapa, meskipun sebenarnya mereka tahu betul siapa yang mestinya lewat jembatan itu. Jadi jika dua kotak ditengah itu berwarna putih, bukan merah. Politisi memang sudah tidak punya nalar, dengan mengatakan kasus pencurian itu yang salah barang adalah yang dicuri karena tergeletak ditempat yang kasat mata. Jika kebijakan bailout tidak salah, sudah seharusnya merger tidak salah. Jika merger salah, maka bailout adalah kebijakan yang salah, karena melakukan kebijakan pada obyek yang salah, sehingga hasilnya pasti salah. Jika kebijakannya tidak salah, mengapa uangnya tetap hilang tak terlacak, mengapa berharap musuh silau dengan melakukan lobi-lobi kotor, dengan kepuasan duniawi sebagai tawaran utama. Politisi memang sudah tidak memahami lagi ajaran-ajaran agama yang mereka anut, meskipun mereka mengendarai partai bersimbol agama. Etika agama hanyalah dipakai membuat tontonan saat hari raya dengan membagi-bagikan uang haram kepada para fakir miskin, yang atas pilihan mereka sendiri telah memilih pemimpin yang memiskinkan mereka, dengan harapan uang haram itu bisa membawa para dermawannya menuju syurga.
Berharaplah ada syurga buat yang haram wahai manusia yang sudah putus urat-malunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar