Jumat, 11 Juni 2010

Menggugat Cara Media Memberitakan Aktifitas Alat Kelamin Selibritis

Memimpin sebuah bangsa yang rakyatnya bodoh memang susah-susah gampang. Susah jika rakyat lebih percaya kepada oposisi dan menyerang kelompok yang berkuasa, gampang jika bias mencari celah memanipulasi opini masyarakat kearah yang diinginkan.
Indonesia adalah bangsa yang bodoh, memiliki kekayaan alam yang melimpah, tapi hidup selalu dibawah penjajahan, sehingga kemiskinanlah yang merajalela. Sementara bangsa lain sudah berfikir penjelajahan ruang angkasa, mengerahkan robot untuk menggantikan peran pekerja, sampai membuat “cyborg” untuk membantu orang cacat beraktifitas seperti orang normal, bangsa Indonesia selalu berkutat pada pembahasan seputar alat kelamin.
Tak heran perhelatan politik yang dahulu tabu pada masa orde baru, kini menjadi hal yang tidak berarti. Semakin tabu sebuah hal dibahas, semakin menarik orang untuk mengintip. Dulu di jaman keditatoran Soeharto, seorang yang sedikit melenceng dari wacana perpolitikan saja bias menjadi pahlawan. Korban pembunuhan/penculikan bias menjadi pahlawan. Di era reformasi, saat pembunuhan dan penculikan sudah menjadi bahasan sehari-hari, orang sudah tidak kaget lagi mendengan balita diperkosa, orang dipotong-potong dan dimasukan tas plastik.
Untuk menutup berita heboh agar menjadi biasa, dibutuhkan berita yang lebih tabu untuk di ekspos. Tak kurang dari berita-berita politik, korupsi, pembubaran lembaga korupsi, di tutup dengan berita yang masih cukup tabu. Persiapan penutupan KPK ditutup dengan berita seputar persenggamaan Ariel-Luna Maya. Sejak saat itu berita PK Bibit-Candra sudah tidak diperhatikan masyarakat. Berita pencucian kasus Century hanya menjadi angin lalu. Entah plot dari media mem-”blow-up” video persenggamaan Luna-Ariel begitu gempita. Bahkan 2 telivisi yang selama ini intens menjadi telivisi berita-pun tak kalah norak dibandingkan dengan infotaintmen. Adakah intelijen Negara terlibat dalam hal ini. Banyak orang penasaran ingin melihat video mesum yang hangat menjadi pembicaraan, kolektor video mesum sudah jelas barisan pertama yang bias mengunduh 2 file berdurasi 2 menitan dan 6 menitan itu, istri para kolektor yang selama ini enggan menonton pun jadi merengek meminta dikopikan. Para kolega, perempuan berjilbab yang selama ini anggun, anak SD, tak satupun ketinggalan menonton video mesum yang menghebohkan itu. Mengapa film mesum yang sudah biasa di dunia maya itu bias menjadi begitu heboh? Bukankah sudah berkali-kali video mesum pejabat dengan artis, pejabat dengan bocah abg, bocah-bocah sekolah kenduri abg, tatapi mengapa video itu bias begitu booming disaat yang tepat.
Media, seakan-akan berlomba lomba menjaring sebanyak mungkin anak bangsa untuk menikmati pergumulan 2 sejoli yang gambarnya sebenarnya tidak jelas tersebut. Pihak yang berwenang seperti koor menyemangati rasa penasaran seluruh bangsa untuk segera menonton, sebelum terjerat hukum, atau setidaknya jangan sampai dianggap kampungan karena ketinggalan menonton. Istilah download, twitter, bokep menjadi bahasa standar, saat ibu-ibu mengumpul bahkan saat sedang pengajian. Anak-anak pun menjadi tahu cara berhubungan intim karena file itu bias didapat dengan mudah. Harapan terakhirnya bias jadi tidak seperti yang diduga. Bias jadi ini sebenarnya hanya kerja intelijen untuk mengalihkan kasus pembubaran KPK dan kriminalisasi Bibit-Candra. Tetapi jika sekarang semua anak bangsa jadi faham apa itu bokep, bagaimana cara downloadnya, siapa yang tahu, yang di mereka tahu anak bangsa ini haus hiburan porno. Didalam Negara dengan model demokrasi semu seperti Indonesia, asal ada uang, apapun yang diinginkan bisa terjadi. Jika efeknya diluar dugaan? Meneketehe.. mikiro dewek

Tidak ada komentar:

Posting Komentar