Kerusuhan tinggal menunggu waktu tepat pemicunya. Kerusuhan di tingkat elit sudah semakin semrawut, semenjak SBY menjabat untuk kedua kalinya. Perseteruan antar lembaga sudah menunjukkan bahwa undang-undang sudah bukan barang penting lagi, kecuali itu diterapkan kepada rakyat kecil. Rakyat kecil sudah sangat tidak tahan dengan tekanan-tekanan oleh pemerintah. Rakyat juga semakin muak dengan polah tingkah artis-artis politik yang hanya duduk-duduk sambil berteriak-teriak tidak tentu arah mengikuti selera humor mereka sendiri. Tak ada lagi bekerja untuk kepentingan rakyat kebanyakan. Pemerintah hanya bekerja untuk kepentingan orang-orang berduit sehingga terasa menjengkelkan bagi rakyat kebanyakan.
mengapa pemerintah hanya memikirkan kepentingan ekonomi tingkat tinggi, ekonomi makro? karena ekonomi makro berkait dengan para kapitalis. Masih ingat laporan kekayaan para pejabat? ada pejabat yang tidak memiliki kekayaan dalam bentuk dolar?
Kalau ekonomi mikro menguat siapa yang dirugikan? mereka yang memiliki kekayaan dalam bentuk dolar akan berteriak keras-keras. Salah satunya pasti SBY yang memiliki 44.887 dolar AS. Itulah alasan pemerintahan SBY lebih mengutamakan menaikkan harga-harga ketimbang berperang melawan kapitalisme. SBY juga mainan surat berharga, yang merupakan salah satu komponen ekonomi makro alias kapitalisme.
Kedepan seharusnya rakyat Indonesia bersatu untuk menuntut siapapun yang menjabat sebagai pajabat publik di negeri ini agar segera melapas dolarnya dan ditukar ke nilai rupiah yang berlaku. sehingga kedepan para pejabat akan berusaha menguatkan ekonomi mikro sejalan dengan kekuatan kapitalisme. Negara agama terbesar di dunia ini seharusnya berkaca kepada komunis, karena para komunis bekerja lebih baik ketimbang ajaran-ajaran agama kita. Cina berani memecat 3.000 perwira polisi, karena pimpinannya terindikasi suap, dan dipenjara seumur hidup tanpa syarat. Sementara, karena tingginya strata agama kita, perdebatan tentang asap rokok saja tidak pernah selesai, menuruti bayaran yang diberikan.
Kamis, 18 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar